Kehampaan Hidup Manusia dan Jalan Kembali Menuju Makna
Artikel 15 Mei 2026
Oleh: Tim PUSDASI

Kehampaan Hidup Manusia dan Jalan Kembali Menuju Makna

Menemukan Kembali Arah Hidup Melalui Iman, Amal, dan Kedekatan kepada Allah

Mukadimah

Buletin ini membahas fenomena manusia modern yang mengalami kegelisahan, kecemasan, kesepian, dan kehampaan hidup meskipun telah memiliki pekerjaan, keluarga, harta, serta berbagai kemudahan dunia.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahwa kehidupan akan kehilangan ketenangan ketika manusia berpaling dari petunjuk-Nya. Firman Allah:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ

Artinya: “Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thaha: 124)

Kehidupan yang sempit bukan hanya kekurangan materi, tetapi juga sempitnya hati, hilangnya ketenangan, dan kosongnya jiwa dari cahaya iman.

Akar Kehampaan Hidup

1. Manusia tidak mengenal jati dirinya sebagai khalifah Allah.

Allah menciptakan manusia dengan amanah besar sebagai khalifah di bumi:

إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً

Artinya: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” (QS. Al-Baqarah: 30)

Manusia bukan hanya pencari kesenangan dunia, tetapi pembawa risalah, penjaga nilai kebenaran, dan pengemban amanah Allah.

2. Tidak menyatukan jiwa dan kehidupan dengan agama Allah

Islam bukan hanya ibadah ritual, tetapi pedoman menyeluruh dalam kehidupan.

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Artinya: “Sesungguhnya sembahyangku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-An’am: 162)

3. Tidak memiliki keberanian melawan kebatilan

Kehampaan muncul ketika manusia mengetahui keburukan tetapi tidak berusaha memperbaiki keadaan. Seorang muslim diperintahkan berpegang kepada iman dan menjauhi thaghut.

فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ

Artinya: “Barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada tali yang sangat kuat.” (QS. Al-Baqarah: 256)

4. Tidak menjadi bagian dari jundullah

Jundullah berarti orang-orang yang istiqamah dalam perjuangan menegakkan agama Allah melalui dakwah, ilmu, amal shalih, pendidikan, dan pembelaan terhadap kebenaran.

وَلِلَّهِ جُنُودُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

Artinya: “Dan milik Allah-lah tentara langit dan bumi.” (QS. Al-Fath: 7)

5. Hilangnya keikhlasan dan kesabaran

Perjalanan hidup adalah ujian. Amal tanpa keikhlasan akan terasa berat, sedangkan perjuangan tanpa kesabaran akan mudah berhenti.

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ

Artinya: “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan...” (QS. Al-Baqarah: 155)

Kesimpulan

Kehampaan hidup bukan hanya disebabkan masalah dunia, tetapi karena hilangnya kesadaran manusia terhadap tujuan penciptaannya.

Jalan keluar dari kehampaan adalah kembali kepada Allah, memahami peran sebagai khalifah, menjalankan syariat-Nya, menjadi bagian dari perjuangan kebaikan, serta memperkuat keikhlasan dan kesabaran.

Doa penutup:

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً

Artinya: “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau.”